Wednesday, 17 September 2014

Peran Media dalam Pendidikan di Indonesia : Sepenggal Kisah Inspiratif dari Indonesia Mengajar




Kelas Inspirasi Banggai
Sebuah aksi tidak dapat dikatakan berhasil jikalau tidak dapat memicu atau menginspirasi aksi lain. Mungkin begitulah keyakinan saya sampai saat ini. Aksi yang dimaksud di sini bukan aksi berupa tindakan negatif melainkan aksi sosial, turun tangan untuk terlibat atas fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar atau lingkungan secara luas dalam artian berbangsa dan bernegara. Dalam tempo yang relatif singkat, teknologi komunikasi dewasa ini memudahkan kita untuk saling berinterkasi, mengakses beragam informasi, menyebarkannya kembali sekaligus memyampaikan pesan atau menginspirasi pihak lain. Indonesia yang dinobatkan sebagai kota paling riuh di Asia dalam hal aktivitas di jejaring sosial Twitter nampaknya menjadi bukti bahwa, antarmasyarakat Indonesia mencoba saling terhubung dengan dan oleh isu yang sama, perspektif yang sama.

Jikalau dicermati ada benang merah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa kemudian bangsa Indonesia bisa saling terkoneksi, isu tersebut kaitannya dengan persoalan pemerataan pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana pendidikan di luar Jawa kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Isu sosial ini kemudian memicu beberapa tokoh mudah juga elemen masyarakat untuk menggagas sebuah aksi. Aksi kepedulian atas kondisi pendidikan di daerah tersebut bertajuk Gerakan Indonesia Mengajar. Sebuah gerakan yang memiliki misi untuk memberikan kontribusi nyata di masyarakat kita, mengabdi selama satu tahun sebagai guru sekolah dasar. Namun, goal dari gerakan ini tidak semata-mata bukan lalu menyelesaikan persoalan akut negeri ini, Gerakan Indonesia Mengajar ini dalam perjalanannya justru berusaha menginspirasi gerakan sosial lainnya  untuk berkontribusi pada masyarakat terutama dalam pendidikan.

Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) sejak tahun 2009 berusaha mengajak kaum muda Indonesia untuk berpartisipasi, menyumbangkan pengetahuannya, mendedikasikan waktu dan kesempatannya untuk berada jauh dari tempanya tinggal. Misinya, tidak hanya mengajar akan tetapi menggerakan masyarakat sekitar untuk turun tangan dalam pendidikan. Melalui blog pribadi mereka bercerita tentang dinamika dan tantangan yang muncul ketika mengabdi selama satu tahun penuh, serta posting di sosial media yang memungkinkan untuk mendapat respon dari siapa saja. Berawal dari sini lah masyarakat mulai terbuka untuk turut turun tangan dalam menjawab tantangan pendidikan di Indonesia secara lebih luas.

Belajar Jadi Wartawan
Sebut saja dengan gerakan Kelas Inspirasi (KI). Gerakan yang diilhami dari GIM dimana gerakan ini memberikan kesempatan bagi para profesional di bidangnya untuk memberikan waktunya dalam 1 hari untuk mengajar dan memberikan inspirasi di kelas. Tidak disangka, gerakan KI ini mendapatkan respon sangat baik dari masyarakat, buktinya adalah gerakan yang awalnya hanya tumbuh di beberapa daerah di Jawa, kini gerakan ini secara swadaya tumbuh berkembang di berbagai daerah di 50 kota di Indonesia, termasuk di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah beberapa hari silam. Belasan profesional muda dari beberbagai daerah menyempatkan dirinya mengambil cuti sehari untuk menjadi inspirator bagi murid-murid SD di Luwuk Utara.

Ternyata rantai positif itu tidak berhenti di gerakan KI saja, munculah gerakan-gerakan dari para relawan yang semakin tergerak untuk melakukan aksi yang nyata, seperti Indonesia Menyala  yang berkomitmen untuk mengembangkan minat baca anak atau bagi mereka yang mau menyebarkan ide dan metode mengajar akan mengisi ruang belajar dengan sukarela via Ruang Belajar

 Siapa yang kemudian mengambil peran dalam kejadian ini? Selain para relawan itu sendiri tentunya adalah media. Ya, dengan kemudahan akses yang hampir tanpa batas ini memang memudahkan berbagai elemen masyarakat untuk mengakses beragam informasi dari media, pun dengan media itu sendiri memiliki beragam fitur untuk mengakses fenomena yang terjadi di masyarakat untuk kemudian diangkat ke permukaan.

Kini berbicara soal pendidikan tidak lagi hanya sebatas mereka yaang menjadi tenaga pendidik namun bisa oleh siapun yang mau dan peduli terhadap pendidikan di negeri ini. Melalui jaringan internet yang hampir menembus seluruh wilayah Indonesia memungkinkan siapa saja untuk  mengajak masyarakat luas untuk peduli, turun ke lapangan dan berbagi. GIM telah membuktikannya, hampir 120.000 relawan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke telah mengambil perannya untuk turun tangan dalam dunia pendidikan. Gerakan ini memang belum bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah negeri ini namun pesatnya perkembangan teknologi informasi di Indonesia diharapkan mampu dimanfaatkan dengan baik untuk mensukseskan tujuan mulia, dan kali ini kemajuan teknologi dan media telah turut membantu menyuarakan pesan bahwa “Mendidik adalah tanggung jawab kaum terdidik””. Media telah turut mengambil peran untuk pendidikan. Bagaimana dengan anda?

No comments:

Post a Comment