Wednesday, 17 September 2014

Sepotong Surga di Celebes Utara

Indonesia, negeri yang elok karena potensi alam juga budayanya. Karena luasnya itulah tak heran jika masih banyak orang Indonesia justru tidak mengenal “surga” kecil yang ada di negeri ini.  Rasa heran itu juga menghinggapi beberapa rekanku ketika saya mengatakan akan berlibur di Pulau Togean.  Jadi, tak berlebihan jika aku meyakini bahwa Pulau Togean adalah salah satu hidden paradise dari sekian travel spot yang tersebar di bumi Indonesia. Spot yang akan ku kunjungi terdiri dari beberapa gugusan pulau–pulau kecil, diantaranya Pulau Bomba, Pulau Kadidiri, Pulau Katupat dan masih banyak lagi. Menurut cerita yang aku dapat, semua pulau yang terlihat terasa masih begitu alami, hamparan pasir yang sangat putih serta air laut yang bergradasi, semua berkolaborasi menjadi landscape yang memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya.

Berbekal informasi yang kudapat dari berbagai sumber akhirnya diputuskan, minggu pertama di bulan kedelapan adalah kali pertama aku dan keempat temanku menjejakkan kaki di surga tersembunyi ini. Kami memutuskan untuk menyewa kapal nelayan dengan double mesin dibanding dengan speedboat, selain harga yang jauh lebih hemat, menurut kami traveling is not just about beautiful destination tetapi traveling adalah seni menikmati setiap menit perjalanan kami.
Perjalanan memang menjadi dua kali lipat lebih panjang dan lama. Namun, siapa sangka warna-warni pengalaman selama perjalanan justru membuat kami semakin kagum dengan bumi Indonesia ini. Di antara ombak besar yang nyaris menghantam perahu nelayan kami, kami masih sempat terpekik girang meskipun cemas mulai menyergap ketika langit biru perlahan ditelan oleh mendung gelap. Ternyata kecemasan itu belum seberapa ketika hujan mulai turun dan sesekali halilintar memekikkan telinga. Namun, tak lama berselang awan hitam mulai menyingkir, matahari kembali menujukan kegarangannya, angin kencang mulai berhembus sepoi-sepoi dan pelangi muncul di antaranya. Hingga akhirnya kami menemukan pulau pertama. Singgah sebentar untuk numpang buang air kecil, bertemu dengan penduduk pribumi pengelola cottage, senyum hangat dan tawa yang renyah adalah cara mereka menyambut kami, katanya jarang mereka menerima tamu orang Indonesia.

2 jam berlalu akhirnya kami tiba di pulau tujuan kami. Dengung keras perahu kami membuat puluhan pasang mata menengok ke arah buritan perahu yang mulai menepi. Mengira-ngira siapakah gerangan yang baru saja tiba? Perempuan bule asal Belanda mengucapkan salam, membuat kami sadar lagi-lagi kami satu satunya wisatawan lokal, semua tamu di sini adalah wisman yang berasal dari suatu tempat yang letaknya ribuan mil jauhnya dari tempat ini.
Tibalah kami pada suatu kamar yang disusun sedemikian cantik, sederhana, dengan aksesoris etnik namun terasa nuansa barat yang hangat. Sehelai hammock tergantung manja di muka kamar kami. Air bersih yang tak melimpah dan listrik yang hanya terbatas semakin meyakinkan kami bahwa kami sedang berlibur di sebuah pulau yang masih alami,  puluhan mil dari kampung terdekat.

Jangan ditanya soal pemandangan di muka kamar kami, hanya beberapa langkah saja kami bisa menghambur ke pantai tenang tak berombak. Dangkal namun dengan beberapa kali ayunan tangan kami akan sampai di hamparan terumbu karang yang masih kaya akan binatang dan tumbuhan laut.
Meski badan sudah terlalu lelah, tak ada satupun diantara kami yang melewatkan snorkling sore itu meski diam-diam matahari mulai tumbang, cahaya merah menggantung indah menyisakan pemandangan sunset yang begitu menawan.
Jam makan malam telah tiba, kami pun duduk diantara bule-bule yang juga menunggu santap malam. Tak bisa terhindarkan obrolan ringan sebagai pembunuh waktu yang menyenangkan, dari obrolan ini juga, kami tahu diantara mereka berasal dari Belanda, Prancis, Italia, Argentina, dan Australia. Kami pun menjadi tahu pemilik cottage ini ternyata juga seorang diantara bule – bule itu.

Tak mengagetkan jika sebagian besar tujuan mereka adalah untuk diving, menyelami dunia bawah air yang konon begitu kaya dan masih alami. Entah siang entah malam, pemandangan dunia air yang terbenam di laut Sulawesi Utara ini memiliki pemandangan magis yang sangat menawan hingga mereka rela menempuh waktu perjalanan hingga puluhan jam. Toh katanya pasti akan terbayar lunas. Surga di atas, surga di bawah begitu kalimat yang sering mereka sebut.
Esoknya, bersama rombongan yang hendak menuju pulau Una-una untuk diving kesekian kalinya, aku dan temanku pun tak ketinggalan. Masih dengan perahu yang kami sewa sehari lalu, kami akan menuju ke pulau Katupat dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Hari itu cuaca sangat bersahabat, cahaya matahari sudah terlihat tinggi meskipun masih pukul 9 pagi. Nasi goreng dan teh hangat sudah mengisi perut dengan sempurna, membuat kami semakin siap dengan petualangan hari itu. Piranti snorkling, pakaian ganti dan sun block menjadi perlengkapan yang tak boleh terlewat. Di antara kami memang belum ada yang bersertifikat diving tapi tak menyurutkan niat kami untuk mengenal makhluk di bawah sana.

Tujuan pertama adalah Karina Beach. Pasir putih dengan air hijau toska menjadi memandangan luar biasa siang itu, membiarkan badan tergulung ombak atau sibuk melihat beragam ikan menjadi pilihan kami selama 30 menit pertama. Setelahnya kami masih menempuh perjalanan nyaris 1 jam untuk sampai di Pulau Katupat. Pulau ini cukup besar, bangunan cottage cukup banyak disana, mirip perkampungan wisman. Kebetulan saat kami tiba adalah jam makan siang, kami pun menyempatkan diri untuk melahap makan siang kami dengan sempurna di pulau yang sangat hommy tersebut.


Jelly Fish
Cukup untuk foto-foto dan menikmati angin pantai, kami pun segera melaju  ke Pulau Kadidiri. Di tengah perjalanan kami sengaja singgah di Mariona Lake, air laut yang terjebak di tengah karang, hingga binatang laut bertransformasi, termasuk ubur-ubur yang tak lagi menyengat, informasi yang kami baru dapat dari seorang resepsionis di salah satu homestay tempat kami makan siang tadi.

Benar saja, danau dengan air berwarna hijau toska, membuat kami tak berpikir dua kali untuk melompat ke sana. “Byurrrr” , sekejap kemudian badan kami sudah berpindah ke dalam danau. Benar saja, kami menemukan ubur-ubur di sana, meski agak ragu akhirnya kami menyentuh juga, ya mereka tidak menyengat. Hingga tak terasa sejam lamanya, saatnya kami harus benar-benar kembali.

Hingga beberapa hari kami menghabiskan waktu kami untuk menikmati sepotong surga di Pulau Togean ini, lompat dari pulau satu hingga pulau berikutnya. Tak cukup kata-kata untuk menjelaskan keindahan di setiap tempat yang kami singgahi, hingga  kamera pun tak sanggup meringkus pemandangan yang ada di sana dengan sempurna.
Gugusan pulau ini begitu indah dan nyata. Di antara gugusan pulau ini ada beberapa pulau yang berpenghuni meski hanya satu atau dua rumah, suku Bajo menjadi penduduk lokal yang sering kali kami temui dan sampan adalahmoda transportasi yang mereka gunakan untuk menuju pulau satu ke pulau lainnya.

Sebelum pulang, kami masih sempatkan mampir ke Pulau Gunung Api. Konon di bawah laut masih ada gunung api yang aktif. Kami masih bisa merekam jejak semburan lava yang sudah mulai dingin dan mengeras, menyerupai bebatuan di tepian pulau, dan siapa yang sangka diantara tanah berpasir itu kami masih menjumpai api abadi, ada nyala api di beberapa titik, menyembul dari rongga kecil di antara bebatuan yang kami jumpai.
Perjalanan pulang kali ini memang menyisakan kelelahan yang luar biasa, namun toh begitu kami sangat puas dibuatnya. Bersyukur kami diijinkan mengenal sepotong bumi Indonesia ini, bumi Indonesia yang sangat kaya. Saya yakin masih banyak potongan surga yang tersebar di negeriku ini, membuat siapapun kita yang terlahir dari ibu pertiwi ini harusnya merasa bangga.

Indonesia tak hanya memiliki Bali, Lombok, atau Raja Ampat saja. Indonesia memiliki lebih dari itu, dari Sabang hingga Merauke adalah bukti bahwa Nusantara negeri yang kaya, pemandangan yang menawan dan sumber daya yang melimpah. Sudah saatnya potensi pariwisata Indonesia memegang sumber pendapatan devisa terbesar negeri yang akan segera dipimpin oleh bapak Jokowi ini. Setujukah anda?

No comments:

Post a Comment